Pagi belum lagi membuka matanya. Masih gelap di luar.
Haris mengerti,sahabatnya ingin dipeluk. Dan dia tak pernah keberatan untuk meluluskan
keinginan itu.
Dengan senang hati, sahabatnya menikmati kehangatan pelukan haris.
Lalu, tiba- tiba saja dia teringat pada sebuah film yang ditontonnya di televisi kemarin malam..
“ Ris… “ sahabatnya mengajak Haris mengobrol
“ Mmm… “ jawab Haris
“ Membuat pilihan itu memang tidak pernah mudah, ya… “ kata sahabatnya.
Haris melirik sang sahabatnya. Mencoba menebak, mengapa sahabatnya mengajaknya bicara tentang sebuah pilihan.
“ Ya, “ jawab Haris, “ Tidak mudah terutama kalau pilihannya sulit. Dua-
duanya menyenangkan, misalnya, atau keduanya tidak menyenangkan… “
Sahabatnya mengangguk.
“ Itu… seperti yang di film kemarin itu…”
Film?
Oh, Haris mengerti kini. Walau dia sendiri hanya melihat sekilas- sekilas
apa yang ditayangkan di televisi, dia dapat menangkap jalan ceritanya.
Ada bumbu cerita cinta segitiga dalam film itu. Melibatkan dua orang
gadis dan seorang pemuda lajang. Ada rencana pernikahan yang terhambat
karena lebih dari dua orang yang terlibat dan pilihan siapa yang akan
menikah dengan siapa menjadi rumit.
Terdengar suara sahabatnya kembali berkata- kata
“ Itu sebabnya ‘yang, selama ini aku tak pernah percaya pada faham ‘selama janur kuning belum melengkung’ itu… “
Haris tersenyum.
Bahwa sahabatnya tak sependapat dengan faham ‘selama janur kuning belum melengkung’ bagi para lajang atau faham populer lain ‘ everything is fair in love and war’, tentu saja Haris sudah tahu sejak lama.
Ribuan kali sahabatnya mengatakan hal itu.
Ribuan kali pula sahabatnya selalu mengatakan bahwa menurut pendapatnya, selalu ada batas antara yang fair dan tidak. Sebab menurutnya, selalu ada aturan tentang suatu kepantasan.
‘Sepanjang janur kuning belum melengkung’ menurut sahabatnya adalah pendapat
yang kurang tepat. Dalam hubungan antar manusia yang melibatkan rasa,
maka setiap orang harus mempertimbangkan kepentingan orang lain serta
menghormati komitmen yang pernah diberikan.
“ Pada akhirnya, “ terdengar suara sahabatnya, “ hubungan cinta segitiga
seperti yang diceritakan dalam film itu hanya akan menyakiti semua
pihak… “
“ Jika ketiganya adalah orang- orang baik yang halus perasaannya, maka
kesakitan dan luka itu akan menjadi lebih dalam. Karena itulah, hal- hal
seperti itu seharusnya dihindarkan sejak awal…” sahabatnya melanjutkan
komentarnya.
Haris tersenyum.
“ Tapi tidak selalu mudah untuk mengendalikan perasaan sahabatnya, “ kata Haris,
“ Kadang- kadang tanpa disadari, orang jatuh cinta begitu saja pada
seseorang, dan jatuh cintanya dalam… Begitu saja terjadinya, tanpa
rencana… “
sahabatnya mengangguk.
“ Aku mengerti, “ katanya. “ Cinta memang bisa muncul begitu saja. Aku
mengerti… Tapi… manusia juga diberi logika. Dan saat jatuh cinta, orang
tak boleh membutakan diri dan mematikan nalarnya. Pada saat- saat
seperti ini, logika seharusnya bisa berperan dan menjadi rem untuk
mengendalikan tindakan… “
Ah… pikir sahabatnya, membuat pilihan memang tak pernah mudah. Apalagi jika menyangkut urusan- urusan hati.
***
Suasana menjadi sunyi sejenak. Tak ada yang berkata- kata.
Dan setelah sekian lama, terdengar suara Haris.
“ Hey, “ kata Haris, “ Ingat nggak cerita yang kamu pernah tulis dulu? “
“ Yang mana? “ tanya sahabatnya. Dia menulis banyak cerita, dan entah yang mana yang dimaksud Haris.
“ Tentang seseorang yang mempertanyakan mengapa mereka tak dipertemukan lebih awal itu… “
Oh itu.
Sahabatnya mengangguk. Ya, tentu saja dia ingat cerita berseri itu. Ingat pula beberapa baris kalimat yang dia tuliskan ketika itu…
Long long time ago, in a galaxy far far away…
Suara ombak berdebur di pantai. Bintang gemerlapan di atas langit.
Dua hati, milik seorang gadis dan seorang lelaki gagah
mempertanyakan hal yang sama : kalau saja mereka dipertemukan lebih
dahulu, akankah ceritanya berbeda ?
Atau, haruskah saat ini, mereka berusaha merancang akhir kisah mereka sendiri ?
Bolehkah? Atau tidak?
“ Ingat nggak komentar aku dulu? “ kata Haris lagi.
Shabatnya mengingat- ingat apa kata Haris tentang tulisan itu, dan dia
tersenyum. Saat itu, Haris mengatakan bahwa tulisan Shabatnya akan
tampak aneh di jaman seperti ini. sahabatnya menulis tentang seorang gadis
lajang yang gelisah sekali sebab dia mencintai dan dicintai oleh seorang
lelaki yang kebetulan telah memiliki kekasih, padahal…
“ Hari gini, kamu… “ kata Haris, “ Orang banyak bicara tentang selingkuh dalam pernikahan, kamu masih nulis kegelisahan para
lajang begitu. Yang mungkin sudah tak lagi dipikirkan oleh kebanyakan
orang. Sebab saat lajang, bisa dikatakan orang masih tidak terikat
secara formal, kan, walau dia memiliki kekasih. Artinya jika dia
berpaling pada orang lainpun… “
Haris membiarkan kalimatnya menggantung. Tapi bagaimanapun, Shabatnya mengerti
apa yang dimaksud. Dan sahabatnya ingat bagaimana dia bersikeras bahwa
bagaimanapun menurutnya hal itu tak dapat dibenarkan. Sebab tetap saja
itu akan menyakiti hati seseorang.
“ Entahlah, “ kata sahabatnya, “ Orang mungkin beda- beda. Tapi aku tak dapat
membayangkan menikah dengan seseorang yang direbut dari kekasihnya
seperti itu. Jangan- jangan sepanjang pernikahan ada perasaan bersalah
yang akan terus menghantui? “
Ah, pikir sahabatnya, menurutnya, bagaimanapun, selalu ada etika yang harus
dipatuhi ketika orang dihadapkan pada pilihan dan langkah yang sulit.
Dan seringkali keinginan harus dikalahkan untuk suatu kepatutan sikap.
Bagaimanapun, sahabatnya selalu percaya, saat seseorang berusaha untuk
meluruskan sikap, walau mungkin ada nyeri di hati, tak pernah hal
tersebut menjadi sia- sia. Selalu ada jalan terang di depan. Selalu akan
ada ganti yang lebih baik menanti…
***
Di luar, suara cericit burung terdengar. Pagi telah datang. Sebentar lagi mereka semua sudah harus kembali beraktivitas.
Tapi…
“ ‘yang… “ terdengar suara sahabatnya
“ Ya? “ tanya Haris
“ Sudah pagi. Tapi… “
“ Tapi apa? “ tanya Haris
“ Jangan turun dulu dari tempat tidur. Peluk aku dulu sebentar lagi. Semenit lagiiii saja… “
Haris tertawa. Dia memeluk sahabatnya lebih erat sambil diacak- acaknya
rambut sahabatnya seraya tersenyum hangat penuh rasa sayang…














